Powered By Blogger

Selasa, 14 Februari 2012

CHANGES THAT HEAL


Bagian I. Tiga Unsur Pertumbuhan
Yang pertama: Kasih karunia adalah kebaikan hati Allah yang tidak pantas diberikan kepada manusia. Kasih karunia merupakan sesuatu yang tidak kita peroleh melalui perbuatan dan tidak layak kita terima. Kasih karunia merupakan sesuatu yang tidak pernah dapat anda peroleh tetapi hanya diberikan. Dengan kata lain, kasih karunia merupakan kasih dan penerimaan yang tidak bersyarat. Kasih yang seperti itulah yang merupakan fondasi diatas mana terletak seluruh penyembuhan jiwa manusia. Juga merupakan esensi Allah, “Allah adalah kasih”, tulis Rasul Yohanes (I Yoh 4:8). Dan Allah mengasihi kita dengan bebas, tanpa syarat. Alkitab sendiri tidak dengan jelas membedakan antara kasih karunia dan kasih. Sebagaimana International standard bible ensiclopedia memberi ulasan, “kasih menekankan watak Allah pribadi terhadap makhluk-makhluk yang tidak berharga, sementara kasih karunia menekankan kebebasannya dari kewajiban di dalam menyelamatkan mereka. Tetapi perbedaan tersebut tidak dibuat dengan jelas atau dengan konsisten. Baik kasih maupun kasih karunia datang kepada kita melalui Kristus (Rm 5:8, Gal 1:6). Dan keduanya unik dalam arti bahwa 2 hal itu tidak semestinya diberikan”.
Kebenaran adalah unsur kedua yang diperlukan untuk bertumbuh di dalam gambar Allah. Kebenaran adalah apa yang nyata; kebenaran menjelaskan bagaimana hal-hal yang sebenarnya. Sama seperti kasih karunia merupakan aspek relasional dari karakter Allah, maka kebenaran merupakan aspek structural dari karakternya. Kebenaran merupakan tempat kerangka hidup bergantung; kebenaran menambah bentuk segala sesuatu di alam semesta. Kebenaran Allah membawa kita kepada apa yang nyata, kepada apa yang akurat. Sama seperti DNA kita berisi bentuk-bentuk yang akan diambil oleh kehidupan fisik kita, maka kebenaran Allah berisi bentuk yang sebaiknya diambil oleh jiwa dan roh  kita.
Kebenaran tanpa kasih karunia adalah penghakiman. Paulus menulis kepada jemaat di Roma mengenai kebenaran tanpa kasih karunia, hukum taurat dan hal-hal yang  dilakukannya kepada kita: 3:19-20; 4:15; 5:20; 7:5, 9-10. Dan kepada jemaat di Galatia: 3:10, 23; 5:24. Dan Yakobus memberi kita sedikit berita yang mengecilkan hati ini: 2:10.
Pada waktu kita melihat apa yang dikatakan kitab suci tentang hukum taurat, tentang kebenaran tanpa kasih karunia, kita melihat bahwa hukum taurat menyumbat mulut kita, membawa kemarahan, menambah dosa, membangkitkan nafsu dosa, membawa kematian, menempatkan kita di bawah kutuk, dikurung sebagai tahanan, memisahkan kita dari Kristus, dan mengadili kita dengan keras. Hukum taurat tanpa kasih karunia menghancurkan kita. Tidak seorangpun pernah bertumbuh pada waktu berada di bawah  hukum taurat, karena hukum taurat menempatkan kita ke dalam hubungan yang legal yang keras dengan Allah: “Aku akan mengasihi engkau hanya jika engkau melakukan apa yang benar atau adil”. Mendapatkan kebenaran sebelum kasih karunia, atau kebenaran sebelum adanya relasi, membawa rasa bersalah, kekuatiran, kemarahan, dan sekumpulan besar emosi yang menyakitkan. Kebenaran tanpa kasih karunia dapat disebut penghakiman, maka kasih karunia tanpa kebenaran dapat dinamai kebebasan.
Kegagalan datang melalui hukum taurat, dan penebusan melalui Yesus. Hanya melalui Dialah kita dapat menyadari 2 unsur pertumbuhan: kasih karunia dan kebenaran. Melalui Dialah kita dapat kembali ke relasi yang sama yang dimiliki Adam: suatu hubungan yang tak terpatahkan kasih karunia dengan Dia yang adalah realitas kebenaran.
Kasih karunia dan kebenaran bersama-sama memutarbalikan akibat-akibat dari peristiwa kejatuhan, yang merupakan pemisahan dari Allah dan yang lainnya. Kasih karunia, pada waktu digabungkan dengan kebenaran, mengundang diri yang sebenarnya, yaitu: “saya” sebagaimana saya sesungguhnya, dengan seluruh kelemahan saya, ke dalam relasi.
Dengan kasih karunia saja kita aman dari hukuman, tetapi kita tidak dapat mengalami keintiman yang sejati. Pada waktu orang yang menawarkan kasih karunia juga menawarkan kebenaran (kebenaran tentang siapa kita, kebenaran tentang siapa dia, dan kebenran tentang dunia di sekitar kita), dan kita meresponi dengan diri kita yang sebenaranya, maka kaintiman yang sejati menjadi mungkin. Keintiman yang sejati selalu timbul di dalam rombongan kebenaran. Perlakuan Yesus terhadap wanita yang berzinah di dalam Yoh 8:3-11, memberikan contoh keamanan dan keintiman yang menakjubkan.  
Pada waktu diri yang sebenarnya masuk ke dalam relasi dengan Allah dan orang lain, semangat yang luar biasa mulai bergerak: kita bertumbuh sebagaimana Allah menciptakan kita untuk bertumbuh. Hanya pada waktu anda dihubungkan dengan Yesus Kristus dan dihubungkan dengan orang  lain, maka seluruh tubuh yang ditunjang dan diikat menjadi 1 oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya (Kol 2:19). Datangnya kasih karunia dan kebenaran bersama-sama di dalam Yesus Kristus merupakan satu-satunya harapan kita dan sungguh merupakan satu pengharapan yang tidak mengecewakan.
Kasih karunia dan kebenaran merupakan kombinasi yang menyembuhkan karena mereka berkaitan dengan salah satu dari penghalang-penghalang utama ke semua pertumbuhan yaitu rasa bersalah. Kita memiliki kesulitan-kesulitan emosional karena kita telah dilukai atau kita telah memberontak atau beberapa kombinasi dari keduanya. Sebagai akibat dari tidak adanya kasih atau ketidak adanya ketaatan, kita tersembunyi di dalam dunia yang ada rasa bersalah didalamnya. Kita telah melihat sebelumnya bahwa Adam dan Hawa harus menyembunyikan diri mereka karena rasa bersalah dan rasa malu karena dosa mereka, dan juga karena mereka sudah menjadi sebagaimana mereka adanya (yaitu mereka yang kurang dari sempurna).
Rasa bersalah dan rasa malu terlalu sering mengirim kita ke dalam persembunyian. Jika kita harus bersembunyi, kita tidak dapat menerima pertolongan untuk kebutuhan-kebutuhan dan kehancuran kita; kita tidak dapat menjadi “miskin di dalam Roh” dan karenanya diberkati. Pada waktu kasih karunia bersama-sama dan berkata bahwa kita tidak dihukum karena siapa diri kita sebenarnya, maka rasa bersalah dapat mulai dipecahkan, dan kita dapat mulai disembuhkan.
Unsur yang ketiga adalah waktu. Alkitab berkata kepada kita agar kasih karunia dan kebenaran menghasilkan buah, kita memerlukan unsur ketiga yaitu waktu. Bertumbuh itu membutuhkan waktu. Dan waktu itu sendiri tidak akan mengerjakannya. Waktu harus digabungkan dengan kasih karunia dan kebenaran. Ketika kita memberi respons dengan bertanggung jawab pada ketiga unsur ini, kita tidak hanya akan sembuh, tetapi menghasilkan buah. Kasih karunia, kebenaran, dan waktu yang bekerjasama dapat mengembangkan semacam ketahanan (Yak 1:2-4).
Bagian 2. Ikatan dengan orang lain
Ikatan adalah kemampuan untuk mengadakan ikatan emosional dengan orang lain. Ini merupakan kemampuan untuk berelasi dengan orang lain pada tingkatan yang paling dalam. Ketika 2 orang memiliki satu ikatan antara dirinya dengan yang lain, mereka berbagi pikiran-pikiran, mimpi-mimpi dan perasaan-perasaan mereka yang terdalam satu sama lain tanpa adanya rasa takut mereka akan ditolak oleh orang lain. Ini merupakan kebutuhan mendasar manusia. Tanpa relasi yang solid dan terikat, jiwa manusia akan terperosok di dalam masalah-masalah psikologi dan emosional. Jiwa tidak dapat berhasil baik tanpa berhubungan dengan orang lain.
Allah merupakan satu keberadaan yang berelasi, dan Dia menciptakan alam semesta yang berelasi. Dasar dari setiap hal yang hidup adalah gambaran tentang relasi.
Pentingnya relasi: kesehatan emosional dan psikologi kita bergantung pada status hati kita, dan status hati kita bergantung pada kedalaman ikatan kita dengan orang lain dan Allah. Alkitab mengatakannya dahulu, dan ilmu pengetahuan membuktikannya hari ini.
Gejala-gejala kegagalan untuk mengikatkan diri: depresi, perasaan-perasaan tidak berarti, perasaan-perasaan buruk dan rasa bersalah, kecanduan, pikiran yang meyimpang, kehampaan, kesedihan, ketakutan pada keintiman, perasaan-perasaan tidak nyata, panik, kemarahan, kepedulian yang berlebihan, fantasi.
Hambatan-hambatan untuk terikat: luka masa lalu, pikiran yang menyimpang, mekanisme-mekanisme pertahanan: penyangkalan, Devaluasi, proyeksi, formasi reaksi, mania, idealisasi, substitusi.
Belajar mengikatkat diri: menyadari kebutuhan, bergerak ke arah orang lain, menyadari kerentanan diri, menentang pikiran yang menyimpang, mengambil resiko, membolehkan perasaan-perasaan yang bergantung, mengenali pertahanan, menjadi nyaman dengan kemarahan, berdoa dan bermeditasi, bersikap empati, bergantung pada Roh Kudus, berkata ya untuk kehidupan.
Bagian 3. Terpisah dari orang lain
Batas-batas (boundaries), di dalam pengertian luas, adalah garis-garis atau hal-hal yang menandai satu batasan atau limit, batas (bound), atau perbatasan (border). Di dalam pengertian psikologi, batas-batas adalah kesadaran mengenai diri kita sendiri terlepas dari orang lain. Penegrtian tentang pemisahan ini membentuk dasar-dasar identitas pribadi. Batas mengatakan siapa kita dan siapa yang bukan kita, apa yang akan kita pilih dan apa yang tidak akan kita pilih, apa yang akan kita tahan, dan apa yang tidak akan kita tahan, apa yang kita rasakan dan apa yang tidak akan kita rasakan, apa yang kita sukai dan apa yang tidak kita sukai, serta apa yang kita inginkan dan apa yang tidak kita inginkan. Singkatnya, batas-batas menegaskan diri kita. Di dalam cara yang sama batas fisik menetapkan dimana garis milik dimulai dan berakhir, batas psikologi dan rohani menetapkan siapa kita dan siapa yang bukan kita.
Bagaimana kita mengembangkan batas-batas adalah dengan berusaha sedikit demi sedikit. Ikatan merupakan tingkatan yang pertama dan utama kea rah pertumbuhan. Kita harus dapat memiliki relasi-relasi dengan orang lain agar hidup. Ini merupakan kesatuan yang mendasari aspek relasional dari gambar Allah. Jika seseorang tidak dapat mengikatkan, maka keterpisahan tidak mempunyai arti.
Batas kita yang paling dasar ialah tubuh kita. Kita seharusnya memiliki tubuh kita sendiri di dalam pengudusan dan penghormatan. Memiliki adalah satu kata yang indah untuk mengakui apa yang terdapat di dalam batas-batas kita. Ketika kita memiliki tubuh kita sendiri maka kita dapat merasakannya secara pribadi. Juga sama dengan perasaan kita. Perasaan-perasaan kita dalah tanggung jawab kita. Begitu juga kelakuan-kelakuan kita, bahwa itu semua ada dalam kontrol kita sendiri. Kita harus tetap di dalam batas-batas kita sendiri, menyadari kemampuan-kemampuan kita sendiri. Pusat dari tanggung jawab itu adalah pilihan-pilihan kita.
Gejala-gejala dari kegagalan menetapkan batas-batas: depresi, panik, kejengkelan, perilaku pasif agresif, kodependensi, kebingungan identitas-identitas, kesulitan-kesulitan karena sendirian, masokisme, mentalitas korban, menyalahkan, terlalu bertanggung jawab dan rasa bersalah, kurang bertanggung jawab, perasaan-perasaan wajib, perasaan-perasaan dikecewakan, isolasi, kebergantungan yang ekstrim, kekacauan dan tidak adanya arah, penyalahgunaan substansi dan kekacauan-kekacauan makanan, penundaan, dorongan hati, kekhawatiran yang dipukul rata, tindakan obsesif-kompulsif.
Keterampilan-keterampilan untuk menetapkan batas-batas: mencapai kesadaran, tegaskan siapa diri anda, tegaskan siapa yang bukan diri anda, kembangkan “tidak”, berhentilah menyalahkan orang lain, berhentilah mempermainkan korban, ketekunan, jadilah aktif bukan reaktif, tetapkan batasan-batasan, memilih-milih nilai, melatih penguasaan diri, menerima orang lain, sadarilah keterpisahan anda, bersikap jujur, menantang pemikiran yang menyimpang.
Bagian 4. Memisahkan yang baik dan yang buruk
Kecenderungan kita yang lazim adalah berusaha dan memecahkan masalah yang baik dan jahat dengan menjaga agar yang baik dan yang buruk itu terpisah. Pada dasarnya kita ingin mengalami saya yang baik, orang lain yang buruk, dan dunia yang baik sebagai “yang baik seluruhnyya”. Di dalam melakukan hal ini, kita melihat saya yang buruk, orang lain yang buruk, dan dunia yang buruk sebagai “yang buruk semuanya”. Hal ini menimbulkan perpecahan di dalam pengalaman kita mengenai diri sendiri, orang lain, dan dunia sekitar kita- perepecahan yang tidak didasarkan atas realitas dan tidak tegak menghadapi ujian waktu dan kehidupan yang nyata.
Perpecahan ini berakibat pada ketidakmampuan untuk sabar menghadapi keburukan, kelemahan, dan kegagalan di dalam diri kita sendiri dan orang lain. Hal ini membawa kepada 2 masalah dasar: kadang kita menolak eksistensi dari yang buruk; disaat yang lain kita menolak eksistensi dari yang baik. Kita merasa seperti kita semuanya buruk ketika kita gagal, atau kita berpikir kita semuanya baik ketika kita mengerjakan sesuatu dengan baik.
Jika kita tidak memiliki kemampuan untuk sabar menghadapi keberadaan bersama dari yang baik dan yang buruk, ,kita tidak dapat berhasil menghadapi dan hidup di dunia ini, karena dunia dan kita tepatnya seperti demikian: baik dan buruk.
Ada banyak masalah yang memisah-misahkan yang baik-dan yang buruk. Jika kita ingin mengatasi hidup dengan sangat baik, kita harus menemukan satu cara untuk hidup di dalam satu dunia yang memiliki keduanya.
Memiliki keinginan-keinginan yang ideal mengenai aspek-aspek dari kehidupan kita merupakan satu bagian dari menjadi manusia. Keinginan-keinginan itu merupakan potensi-potensi yang hilang dari gambaran Allah di dalam diri. Kita dapat membayangkan wanita yang ideal jika kita seorang wanita (Ams 31) atau seperti apa seorang pria yang ideal itu, jika kita seorang pria (Ef 4:14-15). Di dalam setiap keberadaan kita, kita dapat membayangkan yang ideal itu, dan kita merindukannya.
Diri kita yang riil adalah penuh dengan kelamahan karena kita semua adalah orang-0orang yang telah jatuh dalam dosa (Rm 7:14). Ideal hanya menjadi suatu bayangan dalam pikiran kita sementara kita secara nyata adalah berdosa dan tidak sempurna.
Masalah yang melekat di dalam relasi antara yang ideal dan yang riil adalah bahwa yang ideal menghakimi yang nyata sebagai hal yang tidak dapat diterima dan mendatangkan penghukuman serta kemarahan pada yang nyata. Hal ini menimbulkan relasi berlawanan diantara keduanya, dan seperti semua lawan, maka semakin jauh terpisah.
Alkitab mengajarkan 2 tema yang menyeluruh: pertama adalah bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah dan bahwa kita memiliki nilai yang luar biasa. Kedua adalah bahwa kita penuh dosa dan hancur. Ada yang ideal, dan yang sebenarnya. Keduanya benar, dan keduanya perlu didamaikan ke dalam relasi yang memberi kasih karunia dengan Allah dan orang lain.
Akibat ketika kita gagal menerima yang baik dan yang buruk: perfeksionisme, idealism, ketidakmampuan untuk sabar menghadapi keburukan, ketidakmampuan untuk sabar untuk menghadapi kelemahan, ketidakmampuan untuk sabar menghadi perasaan-perasaan negative, masalah-masalah afektif, masalah-masalah citra diri, kegelisahan dan kepanikan, masalah-masalah makan dan substansi, narsisisme, rasa bersalah, kecanduan seksual, relasi-relasi yang hancur, kemarahan yang berlebih-lebihan, menganggap diri sangat buruk, menganggap diri selalu baik.
Hambatan-hambatan untuk memisahkan yang baik dan yang buruk: berpikir menyimpang.
Pandangan kita tentang diri sendiri: tidak pantas dikasihi, lebih buruk dari keburukan orang lain, perasaan-perasaan yang tidak dapat diterima, harus lebih baik dari diri sendiri, menganggap diri ideal, tidak dapat diampuni, tidak dapat tahan dengan dunia yang tidak sempurna, tidak punya kekuatan atau talenta.
Pandangan kita tentang orang lain: bahwa orang lain tidak akan menyukai saya karena keburukan saya, meyerang saya karena kelemahan saya, mereka tidak memiliki perasaan-perasaan spt ini, mereka akan meninggalkan saya jika mereka menemukan, mereka akan tidak menyukai saya jika saya tidak sepenuhya buruk,  mereka akan menghormati cara hidup Kristen saya hanya jika saya sempurna.
Pandangan kita tentang Allah: Allah mengharapkan saya agar seluruhnya baik, Allah menerima saya ketika saya baik dan menolak saya ketika saya buruk. Lalu Dia akan menerima saya kembali ketika saya baik, kadang-kadang Allah terkejut karena saya, Allah akan menolak saya jika saya melakukan…, Allah sedang mengawasi keburukan saya, Allah berpikir bahwa ketidakdewasaan itu buruk, Allah tidak dapat memahami pergumulan saya.
Kita dapat diampuni terlepas dari keadaan yang tidak menyenangkan ini. Kita dapat mempelajari pengampunan berkaitan dengan kasih karunia. Inilah salah satu tugas tubuh Kristus. Kita harus menerima dan mengasihi satu sama lain, meskipun ada kegagalan kita dan dengan lemah lembut memperbaiki satu sama lain menuju satu akhir yaitu kasih.
Relasi-relasi yang mengampuni di dalam gereja dapat menyembuhkan masalah pemisahan yang baik dan yang buruk. Dua obat yang paling penting untuk menyembuhkan masalah ini adalah pengakuan dan pengampunan. Obat yang ketiga adalah mengintegrasikan emosi-emosi yang negative.
Keterampilan-keterampilan lain yang diperlukan untuk menggabungkan yang baik dan yang buruk: berdoa, mengolah kembali yang ideal, mengolah kembali penyimpangan-penyimpangan, memonnitor relasi antara yang ideal dan yang sebenarnya, berlatih mengasihi dari yang kurang ideal di dalam diri orang lain, jangan membuang orang lain ketika mereka itu kurang sempurna, memproses dan menghargai perasaan-perasaan yang negative, mengharapkan keburukan dan kelemahan dari semua orang, mengharapkan kesalahan-kesalahan dari ciptaan.
Bagian 5. Menjadi seorang dewasa
Menjadi orang dewasa merupakan satu proses mencapai kekuasaan atas hidup kita. Anda mungkin dapat berpikir tentang orang-orang yang telah “bertanggung jawab” atas hidup mereka, yang brfungsi sebagai orang-orang dewasa. Mereka tahu apa yang mereka yakini, memikirkan dalam-dalam segala sesuatu bagi diri mereka sendiri, membuat keputusan-keputusan tidak bergantung pada persetujuan orang lain untuk tetap bertahan, dan memiliki sebuah wilayah atau bidang-bidang keahlian yang sebenarnya. Seseorang mendapatkan satu pengertian dari keberadaannya di sekeliling orang-orang ini yaitu bahwa mereka itu berwewenang. Mereka telah menjadi orang dewasa.
Alkitab juga berbicara tentang otoritas. Dalam PB, Yesus mengambil otoritas atas situasi-situasi dan meminta kita melakukan hal yang sama. Marilah kita melihat pada beberapa aspek otoritas yang digunakan Yesus sehingga kita memahami betapa besarnya otoritas yang telah diperintahkan kepada kita untuk kita ambil: kekuasaan- Yesus menunjukan bahwa Dia mempunyai kuasa untuk melakukan segala sesuatu, keahlian- Yesus memiliki pengetahuan tentang Firman Allah dan keahlian di dalam segala sesuatu, tugas- Yesus menerima otoritasnya dari bapa, pengaruh- melalui penggunaan karunia-karunianya,  Yesus mempunyai pengaruh dengan orang-orang, kepatuhan- otoritas yang dimiliki Yesus digunakan untuk melayani orang lain.
Jika menjadi dewasa merupakan tugas yang memerlukan kuasa dan keahlian, adalah mudah untuk melihat mengapa hal ini begitu sulit. Pada waktu kita dilahirkan, kita mempunyai sangat sedikit kuasa dan keahlian. Seluruh kuasa dan keahlian ada dalam diri orang lain dan kita sangat jauh lebih kecil dari mereka. Tetapi, pada waktu kita terus bertumbuh, dan bertambah di dalam hikmat dan besarnya, kita mendapat lebih banyak kemampuan dan keahlian untuk melakukan segala sesuatu melalui proses-proses internalisasi dan identifikasi. Kita menginternalisasi aspek=aspek dari orang tua kita dan mulai mengenali mereka sebagai contoh-contoh peran. Melalui identifikasi dengan figure-figur yang berwewenang ini kita belajar untuk menerima peran-peran mereka dan menjadi seperti mereka.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar